Menulis buat Mengingat -- Sedikit Cerita tentang Isoman dan "Terjebak" di Lab Kampus


dekat.page

Poster 1.0
1. Lupa bilang terima kasih!

Beberapa hari lalu saya berpapasan dengan teman yang sudah 2 bulan tidak ketemu.

"Bal, gimana kabarnya, udah sembuh belum?" tanya dia menanyakan kabar saya yang bulan Juli lalu terpapar Covid-19.

"Sudah, alhamdulillah... paling suka lelah dan jadi suka agak... lemot hehe" jawab saya.

Well, itu sudah beberapa hari yang lalu.

Pagi ini tiba-tiba saya baru ingat dia adalah salah seorang yang mengirim bantuan makanan ke rumah ketika saya sedang isolasi mandiri (isoman).

Saya lupa mengucapkan terima kasih!

Memang sih saya sudah mengucapkan terima kasih lewat Whatsapp pada saat menerima paket darinya, tetapi saya ingin mengucapkannya lagi ketika ketemu langsung suatu saat nanti.

Dan saya baru saja melewatkan kesempatan itu.

***



2. Memetik hikmah dari isoman Juli 2021 (btw, siapa di sini yang juga isoman di bulan itu?)

Saya teringat bantuannya ketika pagi ini saya membaca lagi salah satu tulisan di blog saya tentang pengalaman isolasi mandiri.

Di artikel itu saya menulis 9 poin apa yang saya lakukan ketika isoman.

Memang tulisan itu saya pikir akan (semoga) bisa bermanfaat buat diketahui orang lain.

Tapi sejatinya tulisan itu saya buat diri saya sendiri untuk mengingatkan saya pada hal-hal penting yang saya peroleh atau lakukan selama isoman lalu.

Bagi saya momen isoman yang lalu merupakan momen penting yang signifikan membentuk arah hidup saya dan keluarga saya.

Bukan hanya karena di momen tersebut saya kehilangan ayah saya, melainkan juga hal-hal lainnya.

Satu contoh saja, sekarang keluarga saya cukup sering mengerjakan sholat berjamaah di rumah ketika situasi belum cukup aman untuk shalat berjamaah di masjid atau mushola. Biasanya di rumah kami jarang sekali shalat bareng.

Maka alasan utama saya menulis artikel tentang isoman itu adalah untuk mengingat detik demi detik momen penting tersebut.

Saya menemukan beberapa hal dari isoman lalu seperti (tapi tidak terbatas pada):


1. Mengupayakan yang terbaik akan membantu menenangkan hati.

Selama ini kami sekeluarga sudah berusaha menjaga prokes.

Maka ketika terjadi hal yang tak diinginkan seperti tempo hari, sudah tidak ada ruang tersisa untuk berkata "mestinya dulu begini, mestinya dulu begitu".

Ada rasa lebih tenang ketika meyakini bahwa selama ini telah melakukan sesuai apa yang seharusnya.


2. Jalan keluar bisa muncul dari mana saja, termasuk yang tidak disangka-sangka.

Dulu saya kepikiran gimana ya kalo saya dan keluarga terpapar.

Bakal repot banget kaynya.

Nanti gimana makan-minumnya, dan lain-lain.

Ternyata alhamdulillah banyak sekali bantuan yang kami terima dari tempat yang tidak disangka-sangka.


3. Pentingnya beramal untuk bekal kematian.

Waktu isoman, anggota keluarga lain ngga bisa bantu saya masuk ke dalam rumah.

Paling hanya mengantar kebutuhan saya dan keluarga sampai pagar rumah.

Ini wajar karena CT saya lagi sangat rendahnya sehingga berpeluang menulari siapa saja yang mendekat.

Bukan karena tidak mau masuk ke dalam rumah, tapi kondisi yang menyebabkan orang-orang tidak bisa leluasa masuk ke rumah menolong saya dan keluarga dengan tanpa persiapan apa-apa (perlu hazmat atau minimal jas hujan).

Ini mengingatkan saya tentang kematian bahwa yang mengantar seseorang ketika mati ada 3, keluarga, harta, dan amal.

Keluarga dan harta tidak bisa ikut, hanya amal yang bisa ikut ke dalam kubur.

Jadi kita tak boleh lupa menyiapkan amal buat bekal memasuki alam kubur nanti.


4. Carilah sisi positif dari musibah yang dialami.

Saya dan keluarga kehilangan ayah. Ini musibah.

Tetapi banyak hikmah yang saya dan keluarga peroleh dari kejadian tersebut, jadi itu adalah hal positif yang ingin saya ingat terus.

***



3. Menulis untuk mengingat, salah satunya menulis di blog

Menulis membantu saya buat mengingat.

Saya pernah mendengar ada hadits yang mengatakan "ikatlah ilmu dengan menulisnya" (mohon koreksi kalau saya salah).

Dulu saya biasa menulis catatan yang ingin saya ingat di lembaran-lembaran kertas. Ketika sudah terbiasa memegang laptop, saya menulis catatan di words lalu saya ubah ke pdf.

Bahkan saya punya 1 laporan tahunan perjalanan diri saya sendiri yang saya update setiap tahun.

Setelah mengenal blog saya mulai menulis beberapa hal yang ingin saya ingat di blog saya.

Kelak ketika membacanya lagi seakan saya sedang membaca surat dari masa lalu.

Ini seperti kata Matt Mullenweg founding developer WordPress, dalam salah satu artikel blognya.

Dia bilang tulislah blog buat 2 orang:

First, write for yourself, both your present self whose thinking will be clarified by distilling an idea through writing and editing, and your future self who will be able to look back on these words and be reminded of the context in which they were written.

Second, write for a single person who you have in mind as the perfect person to read what you write, almost like a letter, even if they never will, or a person who you’re sure will read it because of a connection you have to them (hi Mom!).
(sumber: ma.tt/2014/01/intrinsic-blogging/)

Maka, menulis di blog bisa menjadi sarana untuk mengingatkan diri sendiri tentang apa yang ingin diingat di masa depan.

***



4. Menulis untuk mengingat bisa di mana saja -- tentang terjebak di lab kampus

Menulis untuk mengingat bisa dilakukan di blog.

Tapi ngga mesti juga, bisa di mana saja, yang penting mudah mengaksesnya dan mengingatkan penulisnya.

Dulu saya pernah kuliah di salah satu kampus di Jepang.

Suatu hari selepas Jumatan ada orang dari negara lain, yang kami juga saling mengenal, yang meminta tolong siapa saja yang ditemuinya di masjid buat bantu mengecek komputer di labnya yang rusak.

Saya lihat tak seorang pun yang bersedia membantunya, maka saya pun menyanggupi membantunya.

Setelah saya cek, ternyata komputernya perlu diinstal ulang. Mudah sih sebenarnya karena dia punya CDnya.

Tapi ternyata surprisingly ada berbagai hal yang bikin proses instal ulang itu berjalan lama karena si komputer setelah diinstal minta update dan itu memakan waktu lama dari siang sampai maghrib pun masih update.

Sebenarnya ga masalah, tinggal tunggu update sampai selesai aja.

Maka saya bilang kalau saya akan pulang dulu buat istirahat, itu udah tinggal tunggu update selesai aja kok. Nanti besok saya balik lagi karena sekarang lapar.

Tapi dia menahan tangan saya sambil memohon agar saya jangan pulang dulu ini mesti selesai sampai bisa dipakai lagi komputernya.

Whoa...

Sudah tidak disediakan makan, diminta stay dulu lagi di lab.

Akhirnya jam 10 malam (jangan ditanya kenapa urusan ini lama banget, saya juga ngga tahu, belum pernah instal ulang komputer selama itu heheu) barulah selesai. Alhamdulillaah.

Saya pun ditraktir makan jam 12 malam di Sukiya (syukurlah buka 24 jam).

Ini sudah selesai?

Belum.

Paginya, jam 6 pagi! Dia datang ke kamar apato (rumah sewa/apartemen/asrama mahasiswa semua bisa disebut apato) saya mengetuk2 pintu.

Saya tidak membukakan pintu karena masih ngantuk akibat kerja keras kemarin yang telat makan itu.

Dia pun mengirim pesan Whatsapp menanyakan apa saya ada di apato. Dia ngga bisa login di email Gmailnya dan menyalahkan saya ini pasti karena instal ulang kemarin. What!?

Sudah dibantu malah merugikan.

Saya percaya beberapa pembaca tulisan ini mungkin pernah mengalami kejadian semacam ini. Membantu orang tapi malah diserap energinya, apa ya istilahnya, kita sebut saja dirugikan yah.

Syukurlah malamnya dia kirim pesan lagi dia berhasil login ke Gmailnya.

Hadeh..

Saya pun menulis kejadian tersebut, bukan di blog, melainkan di file words yang saya ubah ke pdf agar kelak bisa saya baca lagi.

Kira-kira saya ingin memberi pesan kepada diri saya di masa depan bahwa next time saat membantu orang pastikan beberapa hal, antara lain karakter orang yang akan ditolong dan apakah dia tahu apa yang dia minta tolongkan.

Jangan sampai kita bantu lalu ada kesalahan yang ditimpakan kepada kita karena dia ngga ngerti.

Untuk mengingat hal yang ingin diingat ngga mesti di blog, di apapun juga bisa kita tulis.

***



5. Kesimpulan

Menulis bisa buat mengingat apa yang penting buat diingat di masa depan.

Karena manusia itu suka lupa.

Menulis bisa menggunakan sarana apa saja, baik blog, kertas, words lalu disimpan di Pdf, aplikasi catatan, dan sebagainya.

Yang penting mudah diakses dan mengingatkan penulisnya saat diperlukan.

Semoga bermanfaat, terima kasih atas waktunya :)
 

iidbae

Expert 1.0
Kemarin nemu beginian:

“Jadilah Guru maka engkau akan mencerdaskan satu generasi, jadilah pedilah Penulis maka engkau akan mencerdaskan beberapa generasi”

Imam Ghazali
entah iya atau enggak kalau itu perkataan Imam.
---
sayangnya, permasalahan di dunia bloger adalah ...
 

Top